Menurut Kantor Berita ABNA, sebagaimana yang tercatat dalam tarikh Islam 3 Jumadil Tsani dikenal sebagai hari wafatnya putri kesayangan Nabiullah Muhammad saww, Sayyidah Fatimah Az Zahra as. Republik Islam Iran menjadikan hari tersebut sebagai hari berkabung nasional dan terhitung sebagai hari libur. Dua-tiga hari menjelang hari tersebut, menjadi hari-hari penuh duka bagi seluruh pengikut Syiah dan pecinta Ahlul Bait di seluruh dunia. Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran sebagai sebuah organisasi mahasiswa Indonesia yang berkedudukan di Qom Iran turut mengenang kesyahidan Sayyidah Zahra dengan mengadakan majelis duka Az Zahra, sabtu sore (7/5) di Markaz HPI di kota Qom Iran.
Di hadapan puluhan mahasiswa Indonesia yang bermukim di Qom, Sayyid Ali Idrus sebagai pemateri dalam majelis duka Az Zahra tersebut mengawali ceramahnya dengan mengucapkan belasungkawa dan kedukaan yang mendalam atas kesyahidan putri kesayangan Nabiullah Muhammad saww Sayyidatina Fatimah Az Zahra as. Selanjutnya beliau memaparkan ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan berkenaan dengan Fatimah Az Zahra. Beliau berkata "Sayyidah Zahra memiliki kedudukan yang sangat agung dan posisi yang teramat istimewa, di sisi Allah swt, di sisi Nabi saww, di sisi para Aimmah as bahkan di sisi kaum muslimin. Banyak ayat Al-Qur'an yang diturunkan berkaitan dengan beliau yang menunjukkan keutamaan dan keagungan beliau. Diantara ayat- ayat tersebut seperti ayat at Tahir (dalam surah al Ahzab), ayat al Ith'am (dalam surah al Insan), surah al Kautsar dan ayat Mubahalah (dalam surah Ali Imran)."
"Demikian pula dengan riwayat-riwayat, banyak yang mengungkapkan keutamaan dan keagungan beliau. Diantaranya yang masyhur, Rasulullah saww bersabda, Fatimah adalah belahan diriku, barangsiapa yang mengganggunya berarti menggangguku dan barangsiapa yang mencintainya berarti mencintainya. Dalam hadits lain Nabi saww bersabda, Allah akan murka dengan kemurkaan Fatimah dan akan rela dengan kerelaan Fatimah. Juga terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Fatimah adalah penghulu bagi seluruh perempuan seluruh alam. Riwayat-riwayat ini menunjukkan maqam yang begitu tinggi yang dimiliki Sayyidah Zahra." Lanjut Sayyid Ali Idrus.
Lebih lanjut Mahasiswa S2 Universitas Imam Khomeini Qom ini mengatakan, "Perlu kita ketahui kedudukan tinggi yang dimiliki Sayyidah Fatimah bukanlah semata-mata karena beliau adalah putri seorang nabi. Sebab nabi-nabi sebelumnya juga memiliki keturunan namun tidak semuanya memiliki keutamaan dan keagungan, bahkan diantara mereka ada yang justru memusuhi apa yang dibawa oleh ayahnya. Keutamaan yang dimiliki Sayyidah Zahra itu diraih karena kepribadian yang agung, karena ketakwaan dan keimanannya yang tinggi sampai beliau dijuluki dengan as Siddiqah at Tahirah. Beliau menjadikan misi ayahnya sebagai misi hidupnya. Berbeda dengan kebanyakan anak, yang tidak mau tahu dengan apa yang diperjuangkan oleh ayahnya, Sayyidah Zahra justru menjadikan misi hidupnya menegakkan kalimat Allah yang juga diperjuangkan oleh ayahnya. Oleh karena itu, para ulama menyebutkan bahwa Sayyidah Zahra adalah pembela imam pada masanya, sebagai pembela wilayah."
Sayyid Ali Idrus kemudian menjelaskan mengenai sketsa politik yang sedemikian pelik yang dihadapi Ahlul Bait paska wafatnya Rasul. Sepeninggal Rasulullah banyak kaum muslimin yang kemudian murtad ataupun tetap memeluk Islam namun tidak memberi ketaatan terhadap apa yang telah diwasiatkan Rasul menjelang wafatnya. "Sayyidah az Zahra tidak tinggal diam melihat kondisi yang seperti itu, saban hari beliau dengan membawa Hasan dan Husain berziarah ke pemakaman Baqi, pemakaman Uhud dan di makam Rasulullah. Di tempat-tempat tersebut secara terbuka dan demonstratif beliau mengadakan majelis ratapan. Namun ratapan dan tangisan beliau bukan sekedar tangisan belaka, namun berisi curahan hati beliau kepada ayahnya mengenai kondisi umat yang meninggalkan pesan Rasullah dan tidak lagi berpegang teguh terhadap ajaran Islam. Sehingga yang mendengar ratapan dan rintihan tersebut menjadi terganggu karena merasa bersalah dan malu. Dan mengadukan hal tersebut kepada Imam Ali as."
Beliau kemudian melanjutkan, "Langkah kedua yang dilakukan Sayyidah Zahra, adalah menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan nama Khutbah Fadakiyah, di hadapan jamaah kaum muslimin di masjid Madinah. Dalam khutbah tersebut Fatimah Az Zahra mengingatkan kaum muslimin mengenai perjuangan Nabi dalam mengeluarkan mereka dari kejahiliyaan, mengingatkan mereka akan baiat dan janji kesetiaan kepada Nabi begitupula mengingatkan baiat mereka terhadap Imam Ali as sebagai khalifah pengganti Nabi paska wafatnya. Langkah ketiga yang dilakukan Sayyidah Zahra, adalah memberikan pembelaan atas suaminya yang juga sekaligus sebagai imam Zamannya, dengan mengorbankan jiwa dan raganya, sampai akhirnya anak beliau yang masih berada dalam kandungan saat itu gugur dalam peristiwa pembelaan tersebut. Langkah terakhir, adalah dengan mewasiatkan bahwa beliau ingin dimakamkan tidak secara terbuka, dan hanya orang-orang tertentu saja mengetahuinya. Berdasarkan wasiat tersebut, paska meninggalnya, jenazah beliau dimakamkan secara diam-diam, sehingga sampai saat inipun keberadaan makam beliau tetap menjadi misterius."
"Hal ini menjadi hujjah bagi kita, bahwa ini menunjukkan ketidakridhaan Sayyidah Fatimah atas perbuatan segelintir kaum muslimin pada masa itu. Dan sebagaimana hadits Nabi saww, kerelaan Allah adalah kerelaan Fatimah menunjukkan, kebenaran berada di pihak Fatimah Az Zahra." Tutup Sayyid Ali Idrus dipenghujung ceramahnya.
Setelah mendengarkan ceramah, majelis duka Zahra tersebut dilanjutkan dengan pembacaan puisi dan ma'tam (syair-syair kesedihan) yang kemudian ditutup dengan membaca ziarah Fatimah Az Zahra secara bersama-sama.
Majelis Duka Fathimiyah
Sehari sebelumnya (6/5), Fathimiyah sebagai salah satu divisi HPI Iran yang khusus dalam bidang keperempuanan juga mengadakan majelis duka serupa. Bertempat di Husainiah Madrasah Bintul Huda, Hj. Qorunia Rina Amanah menyampaikan materinya dihadapan 40an mahasiswi Indonesia.
Dalam ceramahnya, mahasiswi semester akhir Perguruan Tinggi Bintul Huda ini memaparkan sosok mulia Fathimah Azzahra sebagai pemilik maqam ma’nawiat tertinggi yang mana beliau adalah Putri Nubuwwah, Istri Wilayah dan Ibu Imamah. Dalam pembuktian sosok mulia beliau ini dapat dilihat dari ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt dalam Sya’n Nuzul ayat tersebut terkait kedudukan mulia manusia-manusia suci Ahlul Bayt Rasulullah Saww dan salah satunya adalah sayyidah Fathimah.
Dibagian lain ceramahnya, ustadzah yang biasa dipanggil dengan Hj. Rina ini lebih lanjut mengatakan, “Dengan melihat segala keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki bunda Fatimah Zahra, sudah sepantasnya jika wanita penghulu seluruh wanita sekalian alam ini dijadikan suri tauladan bagi kita semua. Dalam segi keahli ibadahan beliau, dalam kerumahtanggaannya dengan kedudukannya sebagai putri Nubuwwah, istri wilayah dan ibu Imamah, segi kemasyarakatannya dan yang paling penting adalah perjuangannya dalam membela Islam. Peran beliau dalam membela kemurnian Islam merupakan poin penting dalam sejarah islam. Dengan hijabnya dan berbagai taklifnya sebagai wanita beliau maju memperjuangkan Islam. Hijab merupakan penjaga hati dan sumber kecantikkan asasi dalam diri tiap-tiap wanita. “
Kemudian dipaparkan pula mengenai kepribadian sayyidah Fathimah sesuai nama-nama beliau. Fathimah adalah Fathimah, yaitu seorang pelindung dan penyelamat ummatnya dari api neraka. Begitu juga nama-nama beliau lainnya. Karena nama-nama tersebut adalah cerminan asli pribadi beliau. Nama sayyidah Fathimah lainnya adalah Shiddiqah yaitu orang yang membenarkan sunnah Rasul dan orang yang tutur katanya benar dan jujur, Zakiyah dan Batul yaitu wanita yang senantiasa suci dan juga suci dari darah haid. Radhiah, yaitu yang ridha terhadap apa-apa yang diterima. Mardhiah, yaitu yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Muhaddasah, yaitu yang bercakap-cakap dengan para Malaikat atau penerima ilham dan mencapai tahap penerima ilmu dari Allah Swt. Kemudian Zahra, yaitu cahaya yang hadir dari wujudnya dan menerangi kegelapan.
Majelis duka peringatan Syahadah Sayyidah Fathimah oleh Fathimiyah ini juga disemarakkan oleh aksi Teater dari kelompok Teater Mahasiswi Indonesia Perguruan Tinggi Bintul Huda. Aksi teater yang bertajuk “Sujud Syahadah” diperankan dengan sangat baik oleh Hasna Latang, Aliyah Rizviyah yang juga menjabat sebagai ketua Lembaga Fathimiah, Qonita Al-Jufry, Siti Fathimah, Nurul Fadhilah, Fathimah Baroroh dan Asmaul Husna. Teater yang menggambarkan tentang seorang hamba yang tengah bersujud dalam shalat malamnya di malam syahadah sayyidah Fathimah ini digambarkan secara abstrak. Tokoh lainnya selain hamba adalah sosok-sosok alam saksi sejarah masa kesyahidan sayyidah Fathimah, yaitu Malam, Hening, Api, Duka, Pedih, Gundah, Fajar dan Tanah. Teater ini diragakan sedemikian rupa sebagai renungan bersama bahwa beliau yang seorang wanita suci berdiri dengan gagahnya dalam berbagai penderitaan tak berhingga demi panji wilayah keimamahan dan kemurnian Islam yang diwariskan sepeninggal ayahnya Rasulullah Saww.
"Harapan Panitia penyelenggara dengan berlangsungnya berbagai rangkaian acara ini adalah semoga para Perempuan Muslimah pada khususnya bercermin dalam kaca-kaca tauladan para Manusia suci dan walaupun hanya mampu merengkuh setetes dari lautan ma’nawi tersebut reguklah ia dan jadikan pedoman asli di diri dalam kehidupan ini." Ungkap Asmaul Husna, ketua Divisi sosial-budaya Lembaga Fathimiyah sebagai penyelenggara Majelis Duka tersebut.